Tidak Dihitung - Malam ini kembali saya mengetuk kemurahan Tuhan atas rapuhnya jiwa saya. Betapa saya sangat rapuh, jatuh dan jatuh lagi ke dalam dosa yang sama. Sungguh, jika yang saya ketuk adalah pintu hati manusia biasa, saya yakin dia tidak akan percaya lagi dengan janji-janji yang selalu saya ucapkan, bahwa saya akan berubah, saya akan menjadi baik di matanya, saya tidak akan melakukan dosa lagi, dan lain sebagainya. Mungkin mulut saya akan terlihat berbusa-busa tanpa makna. Mungkin ia akan muak dengan keseluruhan diri saya.
Entahlah... Saya hanya mencoba meyakini bahwa Ia adalah Maha Pemurah. Ia bukanlah pribadi yang perhitungan terhadap kesalahan saya. Saya mencoba meyakini semua itu, dan itu yang mampu menguatkan saya untuk kembali mengakui dengan jujur semua kelemahan saya. Semoga setidaknya itu membuat saya lega, dan memperoleh sedikit bekal keceriaan untuk berjalan ke depan.
Ya, saya mencoba meyakini kemurahan-Nya. Adalah lebih mudah bagi saya untuk menghindari mengakui kelemahan ini. Sudah berulang kali. Saya merasa tidak pantas.... Tetapi saya tetap mengharap. Saya mencoba mengingat kegembiraan dan kebahagiaan yang saya rasakan saat pertama kali saya berani meminta ampunan-Nya. Betapa saat itu saya merasa sangat bergairah, meluap-luap dalam keceriaan.
Ini seperti yang saya rasakan saat beberapa tahun lalu. Betapa karena keteledoran, tindakan saya merusak suasana dan harapan banyak orang, terutama atasan saya. Saat itu saya dengan pasrah mengakui semua, bahwa saya memang salah dan patut diberi sanksi. Bahkan saya sudah menyiapkan batin jika memang akan dipecat. Tetapi ternyata bukan main. Saya masih diampuni, saya masih diberi kesempatan oleh atasan, seakan kesalahan saya tidak ia perhitungkan. Saat itu saya merasa sangat terharu, dan tentunya sangat bahagia. Hari-hari berikutnya di kantor saya lalui dengan penuh semangat dan kegembiraan. Saya masih ingat semua itu... Dan atasan saya adalah manusia biasa seperti saya. Ia bisa mengampuni kesalahan saya, dan hadiahnya luar biasa. Saya merasa sangat bahagia... Jadi, sekarang saya menguatkan kembali hati saya. Saya harus meminta ampunan lagi kepada-Nya.
Jika manusia saja mampu mengampuni, apalagi Tuhan. Jika ampunan manusia saja bisa membuat saya kembali ceria dan bahagia, saya juga harus yakin bahwa ampunan Tuhan akan lebih dasyat. Ampunan-Nya tidak hanya akan membuat saya ceria dan bahagia, tetapi lebih dari itu, ampunan-Nya akan menyelamatkan saya saat ini, saat nanti, dan selamanya.
Tidak ada gunanya lagi saya sembunyikan semua kelemahan dan dosa saya di hadapan-Nya. Hanya akan membuat saya menjadi lemah lesu. Ya, saya hanya harus meyakini bahwa Tuhan tidak akan memperhitungkan kesalahan dan dosa saya. Saya harus bahagia untuk itu...Ampunan Tuhan jauh lebih besar daripada dosa saya. Yang penting saya harus jujur, bersujud, dan mencoba sekuat tenaga... “Ya Tuhan, jangan memperhitungkan dosa-dosa saya...” (By Setyo, 2010)
