Tidak Cukup Hanya Mohon Ampun Kepada Tuhan

Tidak Cukup Hanya Mohon Ampun Kepada Tuhan - Sebetulnya masalahnya tidak terlalu penting dan berat. Ada unsur kesalahpahaman di dalamnya. Tetapi karena saya sudah terlanjur menyangkalnya dengan penuh keyakinan, begitu tahu kebenarannya (bahwa saya ikut andil bagian menjadi penyebab masalahnya), saya jadi tertegun. Antara penyesalan dan harga diri berkecamuk, membuat saya tidak tenang. Apalagi jika berada di dekat teman saya itu. Dulu saya mati-matian bersikukuh bahwa saya tidak bersalah kepadanya, bahwa saya benar-benar tidak tahu duduk permasalahannya. Tetapi kini?

Begitulah, selama berminggu-minggu saya memendam rasa penyesalan sekaligus rasa malu kepadanya. Dalam hati ingin mengaku secara terus terang kepadanya, tetapi entahlah, rasanya masih berat sekali. Akhirnya untuk sementara waktu saya telan sendiri rasa tidak nyaman itu setiap hari, yang semakin terasa saat berada dekat di sisinya, atau saat malam menjelang tidur.

Hingga akhirnya saya mendapat kesempatan untuk mengaku dosa. Saya pun mengutarakan segala dosa saya, termasuk dosa kepada teman saya tadi. Setelahnya memang ada rasa lega di dalam hati. Tetapi tetap saja jika bertemu dengan teman saya itu, saya masih merasa kikuk. Mungkin dosa saya sudah diampuni, dan saya mencoba percaya akan hal itu. Tetapi beban hati saya kepadanya belumlah terkuras habis. Ahhh... Saya memang harus mengutarakannya suatu saat kepadanya. Saya tidak mau berpura-pura lagi kepadanya. Titik!

Akhirnya saya pun dengan susah payah mengaku terus terang kepadanya. Saya tidak mempedulikan lagi apa pandangannya, termasuk nanti pandangan yang lain kepada saya jika tahu akan kesalahan saya. Hanya saya menjadi lega. Saya merasa tidak memakai topeng lagi di muka saya. Terlihat baik di luar, tetapi busuk di dalam. Saya merasa beban di hati menjadi ringan. Yah, terserah kata orang, beginilah saya apa adanya. Minimal saya mencoba jujur dengan diri saya sendiri.

Ada satu hal lagi yang membuat saya terheran-heran. Begitu kebenarannya tersebar (artinya bahwa saya juga bersalah dalam kejadian yang dulu menimpa teman saya), segala kekawatiran yang dulu saya pikirkan ternyata bisa saya tanggung. Dulu saya kawatir, bagaimana sikap orang-orang terhadap saya setelah tahu kebenarannya. Pasti saya dimusushi, pasti saya dipergunjingkan di belakang, ata mungkin juga dikucilkan. Itu semua dulu membuat saya ketakutan. Tetapi setelah terjadi, saya mampu menanggungnya. Ya, itu memang resiko yang harus saya terima. Jika lama menyimpan kebusukan, ya akan membuahkan sesuatu yang lebih busuk lagi bukan? Menyimpan masalah saja bisa menimbulkan masalah lain yang lebih besar, apalagi jika menyimpan dosa?

Tetapi memang begitulah rata-rata sifat manusia. Cenderung menyimpan masalah, cenderung menyimpan kekurangan masing-masing, cenderung menutupi kelemahan, cenderung menyimpan rapat-rapat dosa yang dilakukan, terlebih di hadapan orang terdekat. Hanya karena takut akan tidak lagi dihormati, takut tidak akan lagi dicintai, takut akan direndahkan, dan lain sebagainya. Padahal yang terjadi sebetulnya adalah bahwa ketakutan itu memang akan terjadi justru kalau kita menyimpan segala kelemahan dan dosa tadi.  Semakin lama menyimpan rapat-rapat, semakin berat juga resiko yang akan kita tanggung. Berterusteranglah selagi sempat, karena sejatinya tidak akan ada yang mampu bersuka cita saat memakai topeng kepalsuan.....! (By Setyo, 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *