Saat Harus Mendengar Kabar Buruk

“Selamat pagi Pak..... Apakah saya saya bicara dengan Pak Set? Saya dari PT Blablabla...”

“Selamat pagi Ibu...Iya benar, saya sendiri. Bagaimana ya Ibu?”

“Oh baik Bapak... Kami sangat menghargai ketertarikan Bapak kepada perusahaan kami. Tetapi setelah melihat hasil test Bapak, dengan terpaksa saya memberitahukan bahwa kriteria dan potensi Bapak tidak cocok dengan yang perusahaan butuhkan saat ini. Jadi silahkan dicoba lain kali ya Bapak. Selamat siang....”

Saat itu sejenak saya tercekat, tidak mampu menjawab. Akhirnya dengan suara parau saya mengucapkan terima kasih. Suara yang awalnya terdengar merdu itu kini seakan berubah menjadi suara menyakitkan, tajam, dan membuat pilu ulu hati saya. Saya pun menjadi lemas dan terduduk di sofa rumah saya. Sungguh tidak terlupakan rasa sakitnya saat itu. Begitu terpuruk dan merasa tidak berdaya.

Berita buruk. Itulah yang harus saya hadapi dan harus saya terima mau tidak mau saat itu. Padahal selama berhari-hari saya menunggu kabar baik, dengan mengandaikan saya merasa bisa mengerjakan testnya. Saya sudah merasa jengah untuk menganggur. Saya ingin sekali bekerja, bahkan tidak peduli dibayar berapa. Yang penting bisa mandiri. Hanya itu, cukup itu. Dan seperti kiamat, ternyata saya tidak diterima. Matilah saya...

Selanjutnya, siang itu saya tidak berbuat apapun. Diam gelisah, tidak berselera untuk makan. Saya benar-benar tidak siap untuk mendengar kabar buruk itu. Saya bingung harus bersikap bagaimana lagi. Berbagai perasaan negatif berkecamuk. Antara sedih, terpuruk, malu, tidak berdaya, minder, dan lain-lain. Pikiran pun menjadi kalut.

Itu adalah pengalaman tidak terlupakan yang saya alami beberapa tahun yang lalu. Saya yakin kita semua pernah mengalaminya. Pengalaman harus mendengar kabar buruk, tentu dengan kadar masing-masing. Yang membedakan mungkin adalah cara kita mensikapinya. Setelah sesiangan saya hampir stress, beruntung sorenya saya bisa menceritakan kegundahan hati saya kepada teman. Beruntung juga teman saya hanya sekedar mendengarkan. Itu ternyata cukup membantu saya. Dan terlebih saat malam harinya saya dikuatkan oleh perkataan menyejukkan dari saudara. “Ah...Tidak apa-apa. Yang penting kamu punya pengalaman menghadapi testnya bukan? Lain waktu kamu pasti lebih siap. Masih terlalu banyak kesempatan yang disediakan buat orang berpotensi seperti kamu. Jadi santai saja ya...”

Saat itu saya menjadi tenang dengan perkataan yang mendukung itu. Tingkat stress saya langsung menurun drastis. Tidak terbayangkan jika saat itu saya tidak punya kesempatan berbagi dengan teman dan ditemani saudara. Mungkin itulah kuncinya. Pertama, kita butuh teman yang mau mendengarkan beban kita. Itu sudah cukup mengurangi beban hati kita. Kedua, kehadiran teman juga sangat membantu, apalagi jika berada di sisi kita. Ketiga, kita akan sangat beruntung jika yang berada di sisi kita memahami diri kita dan bisa menguatkan dengan peneguhan. Seperti saudara saya tadi, setelah merenungkannya saya menjadi dikuatkan kembali, jangan-jangan test kerja saya yang pertama itu memang disediakan Tuhan khusus bagi saya pribadi agar kelak bisa memilih dan dipilih oleh tempat kerja yang lebih bagus ya? Jika begitu, mengapa saya harus bersedih? Itu karena saya hanya berpikir kepada kepentingan diri sendiri dan sesaat bukan? Bukannya saya justru harus bersyukur? Dengan pemikiran seperti itu, secara pelan-pelan saya bisa mengendalikan perasaan negatif saya. Pelan-pelan kabar buruk tadi berubah menjadi kabar yang tidak terlalu buruk lagi, dan bahkan menjadi penguat, yang berarti berubah menjadi kabar baik. Memang benar bukan? Buruk atau baik itu adalah tergantung pada pemahaman dan penerimaan akan makna yang tersirat di dalamnya Dan terkadang karena kita selalu berpikir hanya kepada kepentingan diri sendiri dan sesaat bukan? Artinya, kabar apapun itu, pasti khusus dan spesial disediakan Tuhan untuk kita agar kita menjadi lebih siap, lebih dewasa, lebih baik, dan lebih indah pada saatnya nanti.... Dengan begitu, maka memang tidak ada yang namanya kabar buruk. Semua kabar adalah baik adanya untuk mengolah diri kita...(By Setyo, 2010 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *