Menembus Belukar

Menembus Belukar - Suara khas alam yang biasanya akrab dan menenangkan di telinga, saat itu entah mengapa terasa menakutkan bagi saya. Saya menengok jam tangan murahan saya… Hmmm, masih jam 5 sore. Tetapi suasana terasa kelam. Kicauan burung merdu pun mulai berganti suara gaduh monyet yang berlarian ke pohonnya masing-masing dan suara binatang malam lainnya. Saya yang tidak berbekal apapun, terlebih pengalaman, mulai gelisah. Aduhhh…. Bagaimana jika saya semalaman tersesat dan terjebak di hutan anak Gunung Merapi ini? Apakah saya bisa mencapai pos jika gelap begini?

Akhirnya, di tengah kebingungan, saya harus mengambil keputusan. Karena memang tidak punya penerangan, saya harus berlomba dengan tenggelamnya matahari sore waktu itu. Saya pun akhirnya memutuskan untuk membuat jalan pintas. Toh jalan setapak iitu pasti arahnya ya ke atas, maka lebih baik saya menerobos hutan, yang penting arahnya ke atas, paling tidak menerapkan rumus pitagoras…. Saya pun memulai perjalanan kembali. Kini jalan semakin sulit karena kemiringan yang mencapai 75˚. Tangan saya pun selalu berpegangan pada ranting dan dahan pohon-pohon. Sungguh sangat berat saat itu, karena pandangan pun mulai terhalang kabut. Luka-luka lecet di kulit tangan dan kaki akibat goresan duri belukar tidak saya hiraukan lagi. Yang penting terus naik ke atas. Dan akhirnya, tepat sebelum sinar semburat matahari yang tersisa hilang, sayup-sayup telinga saya menangkap suara-suara manusia di atas saya. Saya pun semakin semangat meraih ranting-ranting sambil berjalan….. Dan tak disangka saya sampai di pos. Hanya senyum kelegaan yang saya rasakan…… Banjir keringat di wajah dan tubuh pun tidak terasa. Semua terasa plong…..

Saya pun ditolong oleh penjaga pos, diberi selimut, minum hangat, dan dipersilahkan istirahat di lantai atas… Kebetulan sekali, bisa tidur dan esoknya bisa melihat terbitnya matahari dari pos pengawasan gunung itu. Sungguh suatu pengalaman yang tidak saya sangka sebelumnya. Semua sensasi itu menghilangkan stress yang menyiksa batin saya selama di rumah. Bahkan, saya seperti lupa bahwa saya sengaja pergi dari rumah karena putus asa dan penuh amarah. Yang saya rasakan saat itu justru rasa bahagia dan syukur, karena bisa melewati rintangan di hutan tadi, dan bertemu dengan orang yang sangat baik hati. Esoknya, setelah turun gunung, saya merasa ringan hati untuk mengambil keputusan tentang hidup saya selanjutnya. Saat itu saya setahun lebih bimbang, akan pindah sekolah atau tidak…. Jika pindah, pasti mengecewakan banyak orang, jika tidak saya merasa hidup dalam rutinitas yang membelenggu saya. Tetapi setelah pengelaman di hutan itu, dengan yakin saya memutuskan pindah dan memikul resikonya. Saya pun mengurus sendiri semua perpindahan (karena beda propinsi, maka mengurusnya agak ribet juga)…. Dan penuh harap melangkah ke dunia baru. Ternyata benar…. Seperti saat naik gunung, mendapat hadiah rasa syukur setelah menembus duri belukar, setelah pindah pun saya diberi hadiah sensasi yang banyak sekali. Bertemu dengan teman-teman baru yang urakan namun setia dan tulus, berjuang adaptasi dan bertahan di tengah iklim premanisme di kost yang baru, dan ‘keliaran-keliaran’ yang sangat menggugah hidup saya. Dan ternyata semua itu ada maksudnya. Dengan situasi seperti itu, saya dikuatkan dan bisa bertahan saat di bangku kuliah…..

Ternyata semua memang ada maksudnya. Bahkan hingga kini pun yang namanya duri belukar (rintangan/ kesulitan) selalu menyertai langkah saya, dan mungkin anda juga. Otomatis kita pun dituntut untuk berani membuat keputusan, mau menghadapinya atau menghindarinya. Kita bisa memilih untuk diam dan menghindar, berpegang pada kenyamanan status quo, mencari aman, atau berani menembusnya. Beruntung saya pernah dihadapkan pada kenyataan yang mengharuskan saya harus berani menembus jalan sulit dan terjal, karena ternyata semua itu ada maksudnya. Luka dan perih yang saya terima saat menembus belukar ternyata menguatkan langkah-langkah saya selanjutnya, dan menjadi bekal perjalanan hingga kini.

Siapa pun kita kini, tidak peduli kerja apa, sebagai apa, punya apa, dan apa pun, kita masing-masing-masing punya kesulitan dan rintangan yang menyertai langkah-langkah kita. Saat seperti itu, mari kita hadapi dan lalui…. Terkadang, banyak ‘hadiah’ yang menanti kita. Jika pun terasa sangat berat, mari kita ingat kembali, bahkan Tuhan pun menempuh jalan sulit, bukan hanya menembus duri belukar, tetapi bahkan memakainya sebagai mahkota, bukan untuk kepentinganNya, tetapi ternyata untuk menyelamatkan kita. Dan hadiahNya, Dia menjadi Anak Terkasih Bapa….. So, selamat menempuh perjalanan. Amin…. (By setyo SMA, 1995)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *