Kuberi Kau Keturunan Sebanyak Bintang Di Langit

Lorong itu akhirnya berakhir di sebuah gang buntu. Kami pun sampai di depan sebuah pintu sebuah rumah asri di ujung gang. Saya pun memilih agak mundur, berdiri di belakang punggung rekan saya. Rumah terlihat lengan. Saya pun menengok jam tangan saya. Hmm... Pukul 15.00 WIB. Saat yang tepat untuk istirahat siang.

“Andi.... Permisi. Ini Bunda datang nak.....!” suara rekan saya agak keras.

Tidak lama kemudian terdengar langkah-langkah kecil dari dalam rumah. Bukan hanya satu, tetapi beberapa pasang kaki. Sayup-sayup kudengar suara-suara memanggil dari dalam rumah, yang makin lama makin terdengar keras. “Ibu sudah datang... Ibu sudah datang....!!!”

Kuberi Kau Keturunan

Dan begitu pintu terbuka, berhamburanlah sosok-sosok mungil berlomba memeluk tubuh renta rekan saya. “Ibu... Ibu.... Lihat nilai Robert ya. Hari ini Robert dapat nilai 80..” seru seorang anak yang kira-kira usianya 7 tahunan, berambut kriting dan berkulit hitam. Terlihat kalau ia berasal dari daerah timur Indonesia. “Ehhh... Ibu mari ikut Dian. Hari ini Dian sudah bisa merapikan tempat tidur sendiri Ibu. Ayuk Ibu....” seru anak lain sambil mencoba menarik tangan rekan saya. “Eh...sudah-sudah. Bunda kan masih capai. Ayuk pada duduk semua dulu. Mari Bunda masuk dulu...”, kata seorang anak yang terlihat paling besar (kira-kira kelas 11 SMA) sambil mengambil alih barang bawaan yang kami bawa. Saya pun mengikuti rekan saya duduk di kursi, sambil terus takjub melihat keceriaan anak-anak yang mengerubuti rekan saya. Semua berlomba duduk di sebelahnya.

“Eh anak-anak... Lihat hari ini Bunda membawa tamu. Bunda membawa Ibu satu lagi buat kalian... Kenalin ya, ini Ibu Yati yang baik hati” kata rekan saya. Tanpa disuruh pun mereka semua yang hampir 15 anak itu berbaris lalu mencium tangan saya sambil mengenalkan namanya masing-masing. Saya hanya bisa melongo sambil mengelus kepala mereka satu persatu.

Begitulah, selanjutnya saya ikut mengobrol bersama mereka semua. Saya pun diajak berkeliling oleh mereka. Rumah yang tidak begitu luas itu diisi oleh sekitar 30-an anak, dari bayi hingga SMA. Semua adalah anak laki-laki. Semua mempunyai tugas masing-masing juga. Ada jadwal bagi mereka setiap harinya. Ada jadwal membersihkan WC, tugas doa harian, tugas memasak, tugas mencuci piring, menyapu, dan lain sebagainya. Luar biasa.... Biarpun semua anak cowok, mereka sangat rapi dan terdidik karakternya. Biarpun mereka sebagian besar adalah anak-anak yang terbuang atau tidak diharapkan kehadirannya oleh orang tuanya, mereka seperti tidak mengenal mengeluh. Ada sosok seorang Ibu buat beramai-ramai, itu sudah cukup membuat mereka luar biasa ceria. Saya hampir menangis di situ, betapa besar hati dan mulia rekan saya. Baru kali ini saya sempat mengenal siapa dia sebenarnya. Dia begitu sayang dan perhatian kepada satu persatu anak-anak itu. Semua dielusnya seperti anak kandungnya sendiri. Dan mereka semua begitu patuh, hormat, sekaligus haus akan kasih sayangnya. Luar biasa!

Akhirnya saya berpamitan kepada mereka semua karena hari sudah menjelang malam. Beberapa anak yang sudah agak besar ikut mengantar saya sampai ke jalan raya. Saya pun naik angkot dan melambaikan tangan kepada rekan saya dan anak-anak tercintanya. Sepanjang perjalanan saya menjadi tercenung. Masih terbayang jelas kelucuan, keluguan, dan kepolosan wajah-wajah tak berdosa di panti asuhan itu. Sungguh tega sekali orang tua yang telah membuangnya. Beruntung sekali ada sosok lain yang berhati mulia. Begitulah, di saat banyak orang memohon diberikan berkah seorang anak kandung dan tidak dikasih, di sisi lain banyak yang membuangnya. Saya jadi makin kagum dengan kerja keras rekan saya. Sekarang saya baru mengerti, mengapa dia yang seharusnya sudah pensiun masih rela bekerja keras. Biarpun tidak punya suami dan anak, jika hanya untuk hidup sendiri sebetulnya uang pensiunnya sudah lebih dari cukup. Tetapi rupanya semua perkiraan saya salah besar. Di saat beberapa rekan kerja kami sering mengira betapa kesepiannya dia karena hidup sendiri, hanya Dia dan Tuhan yang tahu, betapa ramai hidupnya dengan berkah luar biasa.

Bintang Di Langit

Memang, dia tidak mempunyai anak kandung, tetapi ini hanya masalah penerimaan dan sudut pandang tentang pengertian dari diberi anak oleh Tuhan. Jika semua orang seperti rekan saya, maka tidak akan ada anak yang terlantar. Dan sekaligus tidak akan ada yang mengeluh pada Tuhan tidak punya anak kandung, tidak punya ini dan itu. Maka tepatlah yang dikatakan Tuhan: “ Tenanglah, akan Kuberi kamu keturunan sebanyak bintang di langit”.... (By Setyo, 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *