Kejahatan Hanyalah Kebaikan Yang Berkurang Sedikit

Kejahatan Hanyalah Kebaikan Yang Berkurang Sedikit - Seorang rekan bercerita, betapa beberapa waktu yang lalu ia melangkah dengan kaki gemetar saat dipaksa adiknya untuk mengunjungi ayahnya yang terbaring di rumah sakit. Bukan karena kaki yang tidak sehat, tetapi karena berbagai perasaan berkecamuk di dadanya. Antara perasaan ingin tahu bagaimana wajah ayahnya yang dulu sangat menakutkan baginya, sekaligus bercampur dengan berbagai rasa sakit dan dendam di hati.

Bahkan saat memasuki lorong rumah sakit, bayangan yang semakin jelas di benak rekan saya itu adalah bayangan ketakutan-ketakutan yang ia alami saat masa remaja dulu. Ketakutan akan menerima amarah, cercaan, dan pukulan saat ayahnya sedang butuh pelampiasan. Bukan karena ia berbuat salah... Dan perasaan-perasaan itu hampir saja membuatnya kembali lari menjauh. Beruntung tangan kekar adiknya mampu menahannya.

Tetapi begitu pintu kamar berderit saat dibuka dan pandangan mengarah ke tempat tidur rumah sakit kelas 3 itu, ia menjadi menggigil.

“Dimana ayahku yang gagah dan sekaligus menakutkan itu? Dimanakah semua hitam rambut lebat yang selalu dipotong cepak itu? Dimana raut muka tegas itu? Benarkah daging kurus kering itu ayahku....?” Hanya berbagai pertanyaan itu yang berkelebat di benaknya kini. Dan lamunannya buyar saat terdengar suara lemah yang bertahun-tahun sudah tidak ia dengar. Suara itu kini sangat lemah.....

Semua rasa dendam dan  benci, rasa ingin membalas sumpah serapah, rasa ingin memaki, rasa ingin menghina yang telah lama sekali ia simpan dan akan ditumpahkan suatu saat itu ternyata kini lenyap. Begitu mendengar suara parau dan lemah, terlebih saat melihat tatapan mata tua itu, ia tak mampu berkata apa-apa. Hanya mendekat dan menggenggam tangan keriput ayahnya. Dan air mata pun tumpah ketika ia mendengar kata maaf dari ayahnya.

Begitulah ia bercerita. Segala dendam dan benci itu seakan lenyap seketika. Benar kata orang-orang yang menasehatinya dulu. Tidak ada orang yang betul-betul berniat jahat, terlebih seorang ayah. Semua orang pada dasarnya baik. Hanya masalah waktu ia akan kembali ke kodratnya, yakni menjadi orang baik, karena jika pun ada perbuatannya yang jahat, itu hanyalah setitik jika dibandingkan dengan kodratnya sebagai manusia yang dilahirkan baik adanya.

Setelah kejadian itu, rekan saya tadi menjadi lebih bersemangat. Bersamaan dengan pemahaman baru itu, segala beban luka batin dan segala prasangka yang ditimbulkannya kini telah lepas. Kini ia mampu menjalani hari-hari dengan ringan.

Kita pada dasarnya memang ditakdirkan baik adanya. Dari bayi kita sudah terlihat semua. Kita dilahirkan untuk ketulusan, kepolosan, dan kebaikan. Semua orang tertawa dan bahagia saat melihat itu semua pada bayi. Jadi jika suatu saat kita tumbuh dewasa dan mulai larut dalam godaan yang menjauhkan dari kebaikan, itu hanyalah sementara. Kejahatan tidak ada, karena ia hanyalah sebutan untuk kebaikan yang berkurang sedikit. Itu menjadi sebuah harapan yang layak kita yakini.... Kita semua baik adanya. (By Setyo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *