Duri Di Sandal Jepit

“Loh... Maaf ya Pak, saya juga diceritain oleh dia tentang kejadian itu, tetapi kok lain ya ceritanya?”

“Tetapi saya masih ingat bener, dia cerita begitu kepada saya. Bahkan saya sampai menanyakan kembali apakah benar-benar seperti itu kejadiannya...”

Jadilah kami berdua saling pandang. Sama-sama mendengar dari orang yang sama, tetapi versi ceritanya berbeda. Dan begitu ada satu teman nimbrung dalam obrolan kami, kami jadi makhlum, karena ia juga mendengar dari orang yang sama, tetapi versinya juga lain dari punya kami berdua. Dan kami bertiga pun akhirnya hanya tertawa. Bukan menertawakan orang yang kami maksud tadi, tetapi lebih menertawakan pada kebodohan kami sendiri. Mau-maunya dibuat bingung oleh sebuah cerita, yang berasal dari satu orang yang sebetulnya kami sudah paham, bahwa orang tersebut suka menyebarkan gosip. Hampir saja kami termakan oleh gosipnya.

Saat berada di rumah, saya masih merasa geli memikirkan kejadian di kantor tersebut. Memang unik dunia ini. Ada manusia yang bersifat begini dan ada yang begitu. Dan teman yang satu itu memang sangat unik. Jika pada umumnya setiap orang punya teman dekat yang bisa diajak ber-hahahihi (bercanda ria), kalau dia lain. Kayaknya hampir semua orang di kantor pernah didekati olehnya. Saat dekat, terlihat begitu baik hati. Lalu tak berapa lama kemudian dia sudah dekat dengan orang yang lain lagi. Dulu saat dekat dengannya, saya jadi mengerti segala masalah yang terjadi di kantor, dari masalahnya boss, istrinya boss, sampai istrinya karyawan yang paling bawah. Termasuk saya juga harus mendengarkan hal-hal buruk dari orang-orang kantor, yang kemungkinan sedang berselisih paham dengannya.

Setelah kejadian di kantor itu saya jadi mengerti, mengapa teman saya yang suka gabung kesana dan kesini itu seperti tidak pernah punya teman dekat, atau angap saja teman dalam jangka waktu yang lama. Setiap mencoba menjalin pertemanan yang baru, terasa sangat dominan peranannya. Jika ada obrolan, maka biasanya ia yang menguasai bahan obrolan. Suatu saat saya tidak betah dan mengutarakan pendapat saya tentang dia secara terus terang. Akibatnya bisa ditebak, dia pun menjauh, lalu terdengarlah suara tidak mengenakan tentang saya setelah kejadian itu. Dan siapa sumbernya? Ya bisa ditebak....

Itulah mengapa kami jadi tertawa geli. Kami semua pernah mengalami hal yang sama. Kami semua pernah disalahkan olehnya. Dan kami jadi yakin, semua orang yang ia kenal nantinya juga akan mengalami hal sama. Bahkan jika ada kesempatan mendekati boss, saya pun yakin boss juga akan disalahkan nantinya (biarpun tentunya di belakang). Hanya rupanya tidak sampai ke boss, karena beberapa minggu kemudian dia mengundurkan diri. Dan saya yakin, dia mundur sambil menyalahkan semua orang atau keadaan di kantor perusahaan itu. Tak bersahabatlah, tak toleranlah, tak kondusiflah... Dan berbagai salah-salah yang lain.

Saat pamitan ke saya, saya hanya berdoa agar ia bisa menyesuaikan diri di tempat yang baru. Karena sebenarnya, yang bermasalah adalah dia sendiri, bukan orang lain atau tempatnya. Selama cara pandangnya tidak berubah, maka dimanapun tidak akan ada kenyamanan. Saya jadi teringat saat saya masih berada di desa. Setiap hari saya ke kebun salak hanya beralaskan sandal jepit. Namanya juga kebun salak, maka dimana-mana penuh duri tajam. Dan suatu ketika saya menginjak secara tidak sengaja sebuah dahan salak sehingga durinya menancap di sandal jepit saya. Beberapa bisa saya cabut durinya, tetapi sebagian kecil sangat susah dicabut. Berhari-hari setelah itu telapak kaki saya sering tertusuk duri yang tertinggal itu saat menginjak bebatuan atau tanah keras. Jadilah saya sering meringis saat duri di sandal itu lagi-lagi menusuk telapak saya. Kemanapun saya bepergian saya jadi tidak nyaman. Kenapa? Ya karena masalahnya bukan karena kondisi jalan yang saya lalui tidak bagus, tetapi karena duri di sandal saya yang tidak bisa saya lepas. Jika mau pergi kemanapun dengan nyaman, ya  sudah seharusnya cabutlah duri tadi bukan? Akhirnya durinya saya cabut dan saya bisa pergi kemanapun dengan nyaman. Selamat jalan dan semoga sukses di tempat baru, tetapi cabutlah dulu duri di hatimu.... (By Setyo, 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *