Duc In Altum - Sabtu siang itu saya tidak sengaja melihat saluran sebuah stasiun televisi nasional yang sedang menayangkan acara kesaksian hidup. Kebetulan yang sedang bersaksi adalah seorang tokoh agama. Di sela-sela kotbahnya, ia memberi contoh tentang pertobaan yang ia alami sendiri. Betapa dahulu dia adalah seorang yang sangat bertolak belakang dari dengan yang sekarang. Tidak ada yang menyangka bahwa dulunya ia adalah seorang yang tidak berkeyakinan. Segala hidupnya hanya digunakan untuk mengejar kepuasan dan kenikmatan duniawi, yang seakan tiada ujungnya. Lalu apakah yang membuatnya berubah?
Kasih tulus seorang ibu
Kasih tulus seorang ibu, yang rela menderita untuk anaknya yang durhaka. Itulah yang mengubahnya. Di saat semua anggota keluarga sudah tidak menganggapnya lagi, dan bahkan menyerahkannya segala urusan ke pihak yang berwajib, hanya ibunya yang meraung-raung menangisinya saat dirundung kesusahan. Sungguh tidak terkira pengorbanan ibunya. Hanya ibunya yang mau menjenguknya di penjara, sekaligus tiada henti membujuk dan mengajaknya berdoa bersama di ruang kunjungan. Dan setelah bertahun-tahun, kesabaran ibunya itu yang membuatnya tidak tega menolak, saat ibunya meminta ia berkonsultasi ke pembimbing rohani di penjara. Bukan terlebih karena ia membutuhkan, tetapi karena tidak tega menolak lagi permintaan ibunya.
Rupanya semua itu adalah jalan yang akan menuntunnya. Tuhan menyentuhnya melalui pembimbing rohani, tetapi terlebih karena usaha tiada henti dari kelembutan hati seorang ibu. Kekerasan batu hatinya luruh oleh sentuhan kasih tiada henti seorang ibu. Itulah yang mengubahnya, itulah yang membuatnya bertobah total.
Sejak saat itu, pengalaman itu menjadi dasar bagi perjalanan hidupnya. Jika dulu ia diselamatkan oleh kuasa sentuhan kasih, kini ia merasa terpanggil untuk menyentuh dengan hati semua orang yang berbeban berat, semua orang yang telah dibuang dan merasa terbuang, semua orang yang telah dianggap sampah. Ia menganggap dan memperlakukan mereka semua sebagai seorang yang sangat berharga dan selayaknya diselamatkan, sama seperti ia yang dulu dianggap sampah dan kini terselamatkan.
Sebetulnya banyak sekali kisah-kisah serupa di atas, dimana hidup seseorang berubah total saat ada seseorang yang tiada lelah untuk menyentuh hatinya yang terdalam. Sayangnya itu hanya dialami oleh sedikit orang. Lebih banyak jiwa berharga yang tidak beruntung karena tidak tersentuh. Dan itu bukan hanya oleh orang-orang di sekitar kita, tetapi banyak juga yang harus dialami oleh anggota keluarga kita, dialami oleh anak-anak kita.
Banyak orang tua yang kini mudah menyerah saat harus menghadapi kenyataan, anak kesayangannya yang saat kecil terlihat baik-baik saja kini menjadi ‘nakal’ saat menginjak remaja dan dewasa. Alih-alih berusaha menerima kenyataan, yang terjadi justru kadang mencari kambing hitam atas semuanya. Menyalahkan istri / suami, menyalahkan lingkungan, menyalahkan sekolah, dan lain sebagainya. Padahal sejatinya bagaimanapun dan apapun yang terjadi pada anak kita, itu murni karena orang tua. Orang tualah yang diberi kepercayaan menjadi ayah dan ibunya, bukan orang lain. Padahal sebenarnya semua yang sudah menjadi seorang ayah dan ibu, dia juga dikaruniai kemampuan untuk menyentuh hati yang terdalam, terlebih hati anaknya sendiri. Anak yang berarti darah dagingnya sendiri. Siapakah yang paling dekat dengan daging darahnya sendiri selain orang tuanya? Mungkin yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk sedikit lagi berusaha dan bekerja dengan hati lebih penuh kasih, lebih sabar, sekaligus lebih dalam..... Berusahalah menjangkau hatinya yang terdalam. Bertolaklah lebih dalam, bukan hanya di permukaan, terlebih dia adalah anakmu. Duc In Altum....! (By Set76, 2010)
