Dingin Sekali Budhe

Dingin Sekali Budhe - Entah karena apa, tidak seperti biasanya, saya terbangun pagi-pagi buta (ternyata pukul 03.25 WIB setelah saya lihat dari HP). DIngin sekali udara pagi itu….Terasa kaki saya seperti membeku. Cepat-cepat saya naikkan selimut tebal yang semalam tidak sempat saya sentuh karena ketiduran. Hmmm…. Lumayan hangat, tetapi sekarang rasa dingin itu berganti menyapu wajah saya. Ahhh.. Memang tidak seperti biasanya, tubuh yang biasanya kebal terhadap angin dingin karena lapisan lemak yang mulai menumpuk, kini seperti tiba-tiba saja menyusut seperti saat 17 tahun lalu. Tinggi, kurus, tulang-tulang rusuk yang agak menonjol, dan perut yang rentan terhadap masuk angin….

Yaa….. 17 tahun yang lalu itu saya masih SMP, entah kelas berapa. Yang jelas kenangan-kenangan itu kembali masuk ke kepala saya, seakan terbawa oleh dinginnya udara yang saya hirup. Dan hati saya kembali menjadi pilu dan sedih. Bukan karena pengalaman selama SMP itu, tetapi justru oleh karena suatu peristiwa setelah masa itu.

Bermula dari lemahnya kondisi badan yang harus pagi-pagi buta bangun, berebut ke sungai untuk melepas hajad, lalu makan kalau ada tersisa nasi di dapur, lalu berlari atau jalan cepat sejauh 7 km ke sekolah, dengan bahkan kadang tidak sempat cuci muka. Dan selama setahun menjadi akrab dengan yang namanya muntah, karena memang hampir setiap hari selama berangkat di pagi buta itu harus muntah di tengah jalan, yang saat itu saya sendiri kurang tahu kenapa. Mungkin karena masuk angin telat setiap harinya. Dengan kondisi seperti itu, akhirnya saya menerima dengan senang hati saat ditawarkan untuk menumpang di rumah Budhe, yang kebetulan jarak dari sekolah hanya 4 km. Dan sejak itu (mulai kelas 2 SMP seingat saya), dunia remaja saya pun diwarnai oleh Budhe…. Karena memang kami hanya berdua di rumah besar dan kuno itu. Ber-atap genteng, berlantaikan tanah, berfondasi tembok, tetapi berdindingkan anyaman bambu.

Hari-hari yang saya lalui sebetulnya tidak jauh berbeda, seperti saat saya di rumah sendiri. Masih bangun pagi dan berebut sungai untuk buang hajad, plus diiringi rasa sakit di perut, lalu sarapan apa adanya. Tetap semua dilakukan sendiri, karena Budhe pun sudah ber-umur dan punya sakit, sehingga saya memang tidak tega untuk membangunkannya. Pulang sekolah pun masih dilanjut dengan mencari kayu bakar. Mungkin inilah yang kadang membuat saya sedih, dan seringnya menjadi jengkel. Lahan untuk mencari kayu di sekitar Budhe sangat sempit disbanding dengan rumahku, sehingga pernah sampai kebingungan mau mencari kemana lagi. Dan pernah karena saking cape dan jengkel, saat itu aku pulang dari kebun marah dan tidak mau berbicara. Tetapi biasanya malamnya rasa marah dan jengkel itu hilang….. Semua karena satu hal, udara malam yang sangat dingin, berhembus melalui celah dinding bambu, dan seakan menusuk tulang-tulang rapuh saya. Jarit (kain tipis yang biasanya dipakai untuk kebaya) sebagai satu-satunya selimut saya pakai, sungguh tidak mampu membantu member kehangatan. Justru saat tersentuh kulit lengan, rasanya seperti menyentuh es batu. Dan saat-saat seperti itulah, Budhe akan datang ranjang sederhana yang kutiduri, dan mengajakku untuk tidur bersamanya. Mulanya sungkan, tetapi karena keadaan, saya pun ikut sarannya. Dan sungguh hangat ranjang Budhe, selain selimut yang lebih tebal dan hangat, pelukannyalah yang membuat saya bisa tertidur pulas….. Dan saat seperti itulah, yang sedari kecil jarang saya peroleh….. Kenangan itu kembali terbayang jelas di mata saya. Saya hanya bisa tersenyum….

Sayang, ada satu kejadian yang benar-benar membuat saya marah dan jengkel saat itu, yakni kira-kira 1,5 tahun sejak saya ikut bersamanya. Peristiwanya apa, saya sendiri sudah lupa persisnya. Hanya sejak saat itu, saya memutuskan kembali ke rumah, dan tidak kembali ke Budhe, bahkan sekalipun hanya untuk menengok. Sempat saya tahu juga Budhe menanyakan lewat Ibu, kenapa saya tidak mau tinggal bersamanya lagi. Apakah saya marah kepadanya? Saya hanya diam, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Setelah masa SMP, saya pun memasuki masa SMA, dimana saya bisa menemui tempat dan suasana baru lagi. Saya kembali tidak di rumah, dan memutuskan untuk berasrama dan kost. Dua tahun sejak lulus SMP itulah, saya dikejutkan oleh berita yang disampaikan kepala asramaku. Budhe saya meninggal….. Saya hanya tercenung saat itu. Membayangkan keadaan rumah Budhe. Pada akhirnya perkiraan saya pun benar adanya. Budhe meninggal sendirian di rumahnya, di kamarnya yang hangat namun sepi,  dan ditemani rasa sakit ngilu tulang karena rematiknya…..

Kini, hati saya menjadi dingin, sangat dingin. Serasa basah dengan air mata penyesalan. Maafkan saya Budhe... Semoga kini Budhe selalu hangat di rumah Bapa di surga. (By Setyo, 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *