Budak Mulut - Suatu hari saya pulang dengan berat hati. Jika biasanya suasana pulang kerja adalah hal yang menyenangkan, sore itu tidak bagi saya. Rasanya pikiran saya berat. Dalam perjalanan pulang hati saya masih merasa belum bisa menerima perkataan yang ditujukan kepada saya. Rupanya saya masih jengkel dengan pernyataan orang lain yang ditujukan ke saya menyangkut kepribadian saya. Dan rasa berat hati itu masih saya bawa sampai malam hari, bahkan membuat saya agak sulit tertidur.... Padahal biasanya tidak usah berniat tidur pun malah ketiduran.
Tetapi rupanya itu tidak berlangsung lama... Dua hari kemudian, setelah melalui pergolakan batin dan sedikit instropeksi, ternyata memang tidak seharusnya saya jengkel. Justru harusnya saya bersyukur, karena orang lain telah bersedia membukakan mata saya akan kekurangan saya sendiri. Dan benar, setelah menyadari itu, perkataan yang awalnya terasa pedas di telinga dan hati saya, jadi terasa manis... Dan beban hati saya pun ikut lenyap oleh rasa syukur tadi.
Pengalaman di atas adalah pengalaman saya tentang bagaimana sulitnya menerima masukan dari orang lain, tidak peduli masukan itu terwujud dalam untaian kata-kata manis atau kata-kata pedas. Semakin saya merasa tersakiti, itu menandakan juga bahwa ego saya sangat besar. Bisa juga itu tanda bahwa saya melekat kepada yang namanya ‘harga diri pribadi’. Tidak peduli masukan itu benar atau salah, saya langsung bereaksi. Dan reaksi pertama adalah berbentuk rasa gelisah, jengkel, tidak menerima, ingin berontak, dan lain sebagainya. Dan itu membuat beban hati dan pikiran saya.
Tetapi hal itu ternyata juga bukan hal satu-satunya yang sering menjadi beban. Belum lama ini, saya justru mengalami hal yang sebaliknya. Jika dahulu saya menerima perkataan pedas dari orang lain, sekarang saya yang mengeluarkan kata-kata pedas itu kepada orang lain. Awalnya hanya mendengarkan bahan obrolan orang lain, dan lama-lama nimbrung, hingga suatu saat terlontarlah untaian kata-kata kritik yang menyengat dari mulut saya. Dan apa hasilnya?
Sungguh hebat efeknya. Tidak usah menunggu terlalu lama, seketika saya seperti kaget dengan perkataan yang keluar dari mulut saya, terlebih saat melihat reaksi orang-orang yang ada di situ. Dan seperti nasi sudah menjadi bubur, memang tidak bisa dibalik lagi agar menjadi nasi. Yang ada ya harus saya makan buburnya (padahal tidak suka makan bubur). Artinya mau tidak mau saya harus telan rasa panik saat itu, termasuk rasa sesal mendalam yang tidak bisa ditolak lagi. Saya pun terpaksa mengikuti obrolan yang kini tidak menarik lagi itu, dan berharap segera selesai sehingga dapat melarikan diri...
Jika dahulu butuh dua hari untuk menghilangkan beban di hati karena perkataan orang lain, ternyata sekarang butuh waktu yang lebih lama. Perkataan kurang baik yang saya lontarkan ternyata membawa penyesalan yang membuat hati tidak tenang selama berhari-hari. Semakin saya memikirkannya, semakin besar rasa penyesalan saya....
Apa hak saya untuk mengadili, bahkan menghakimi orang lain dengan kata-kata saya itu? Apakah saya lebih suci dibanding dengannya? Bahkan jikalau lebih suci, bukankah itu tetap tidak membuat saya berhak menjadi hakim? Apalagi jika perkataan saya itu ternyata tidak sesuai kenyataan, bertambah lagi dosa saya. Penilaian orang lain kepadanya menjadi tidak baik, dan itu bisa karena perkataan saya. Sekali orang menilai, maka susah untuk memperbaikinya. Dan itu terjadi karena perkataan saya. Apakah jika saya meminta maaf kepadanya, otomatis menghapus kesan kurang baik yang menimpanya? Bahkan, itu pun jika saya punya nyali untuk meminta maaf bukan?
Lebih menyakitkan lagi saat saya menyadari, betapa dahulu saya merasa tersakiti oleh perkataan orang lain, dan mengapa sekarang justru saya melakukan hal yang sama? Dan saya bisa membayangkan sakitnya orang lain karena perkataan saya....
Rupanya memang benar kata pepatah... Selama masih berada di pikiran dan hati, selama masih berada di tenggorokan, kitalah tuan atas segala perkataan kita, entah itu perkataan positif ataupun negatif. Tetapi sekali perkataan itu keluar dari rongga mulut kita, maka tak urung kini kita menjadi tak berkuasa atasnya. Jika perkataan yang terlontar bernada positif dan membangun, kita menjadi berkah bagi orang lain, tetapi jika perkataan bernada negatif dan menjatuhkan orang lain, maka kita menjadi tawanan dan budaknya. Seperti yang saya alami, mungkin saudara-saudara juga.... Kita menjadi terpenjara oleh rasa tidak tenang, rasa penyesalan, rasa gelisah, dan sebagainya.
Satu hal yang mungkin bisa menguatkan kita semua. Jika masih ada rasa sesal dan gelisah saat mengalami hal di atas, berarti kita masih mempunyai secercah harapan terang. Kita masih mempunyai hati nurani yang peka. Mudah-mudahan rasa sesal dan gelisah itu adalah sentilan ringan dari-Nya, agar kita segera mohon ampun dan bertobat. Dan langkah selanjutnya saya rasa tergantung kita masing-masing, masihkah mau menanggapi sentuhan-Nya itu, masihkah kita membuka pintu untuk menjadi anak-anak-Nya. Semoga...... (By Set76)
