Bibiku Saudaraku

“Pak.... Punya tetangga  atau kenalan yang mau menjadi pengasuh anak tidak ya? Saya sudah mencari kemana-mana tidak ada yang cocok....”

“Loh, Bibi yang kemarin kemana Bu?”

“Ga tau....Baru 2 minggu sudah minta berhenti. Aduhh....pusing saya. Susah sekali seh cari pembantu  jaman sekarang, padahal saya menggajinya termasuk tinggi loh Pak..”

Sudah beberapa kali saya mendengar permintaan seperti itu. Saya pun mengamini kesulitan teman saya itu. Di saat sangat membutuhkan pembantu untuk mengasuh anaknya yang masih bayi, ternyata tidak ada yang betah. Baru umur setahun pembantunya sudah berganti-ganti beberapa kali. Selain pekerjaan kantor yang jadi terbengkelai, pikiran dan hati pun tidak tenang mengkuatirkan dampak pergantian itu ke mental anak. Lagi-lagi anak yang akan menjadi korban..... Tetapi benarkah sekarang sangat sulit untuk mencari pembantu yang betah bekerja lama? Sulitkah mencari pembantu yang setia? Kalau iya, mengapa bisa begitu?

Beberapa tahun yang saudara saya juga mengalami hal yang sama. Terbentur oleh keadaan, maka kami lebih sering mengalah kalau ada yang kurang berkenan tentang pengasuh, atau kalau kami lebih suka memanggilnya Bibi. “Ah tidak apa-apa, yang penting anak ada yang mengasuh ya...Kita memaklumi saja...”, itu jawaban yang terlontar saat ada sesuatu yang tidak beres. Biasanya masalah hutang. Tetapi rupanya memang sulit. Biarpun kami sudah berusaha mengalah, ternyata Bibi yang itu memang tidak bisa dipertahankan karena masalah kasus yang mengkuatirkan.

Setelah itu keponakan pun harus diasuh oleh beberapa pengasuh karena seringnya mereka mengundurkan diri. Tetapi syukurlah, setelah itu ada Bibi baru yang mendaftar. Dari awal kami semua berusaha menganggapnya lebih dari sekedar ‘pembantu’, tetapi Bibi yang membantu kita termasuk dalam pembentukan karakter anak-anak. Saya sendiri memanggilnya Bibi karena merasa itu lebih dekat, bahkan kadang seperti saya anggap saudara. Dalam meminta tolong pun, kami tidak mengeluarkan kata-kata memerintah / menyuruh, tetapi lebih meminta tolong, seperti :”Bi...Nanti saya minta tolong titip baju saya ya....”. Dan ada kalanya, biarpun saya bukanlah atasannya, tetapi sekali waktu saat hari-hari besar saya juga ikut memberi sesuatu sebagai tanda kasih, selain berkunjung ke rumahnya. Dan semua itu juga diajarkan ke anak-anak. Syukurlah, rupanya aura positif itu sangat manjur. Biarpun bukan faktor utama, tetapi karakter anak-anak berkembang dengan baik. Saya yakin itu juga ada andil dari Bibi juga, yang notabene berada di rumah dari pagi sampai sore. Dan kini sudah 8 tahun berjalan. Bibi yang satu ini tetap setia dengan tanggung jawabnya, termasuk setia dengan kesulitan keluarga yang dibantu, sehingga tidak mudah untuk pindah. Dan kami semua juga berusaha setia dengan kekurangan yang ia miliki, misalnya dengan sakit darah tinggi yang ia derita, termasuk faktor umur yang mulai berpengaruh.

Saya rasa hubungan antara Bibi dan keluarga yang dibantu bukanlah sekedar hubungan antara bawahan dan atasan. Ini lebih sebagai hubungan kekeluargaan, biarpun dalam batas-batas tertentu. Sebagai keluarga yang dibantu, sebetulnya kita melimpahkan begitu banyak tanggung jawab. Maka mungkin selayaknya kita yang terlebih dahulu membuka pintu persaudaraan ini, dengan melakukannya lebih sebagai saudara. Saya yakin, sikap kita pun akan ditangkap maksud baiknya oleh Bibi kita masing-masing.

Hubungan seperti ini juga dialami oleh beberapa teman yang kini sudah dewasa. Sungguh sebuah pengalaman yang menakjubkan saat sudah dewasa dan merantau, dan tahu-tahu didatangi oleh yang mengasuh kita.... Yang terjadi adalah seperti pertemuan mengharukan antara seorang Bapak/Ibu/Kakak dengan anak atau adiknya. Atau betapa mengharukan saat kita sudah dewasa lalu saat liburan mengunjungi rumah yang mengasuh kita. Itu semua bisa terjadi pada siapapun, asal dari awal dilandasi dengan semangat persaudaraan. Dia Bibiku, bukan pembantuku. Terima kasih Bibi atas semuanya.... (Setyo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *