Ada Waktunya Untuk Sedih dan Gembira - Entah sudah berapa kali saya menginjakkan kaki ke KRB (Kebun Raya Bogor) ini. Setiap kali ke tempat yang penuh pohon-pohon besar ini selalu ada sesuatu yang bisa menyegarkan batin saya. Bukan hanya udaranya yang sejuk, tetapi suasananya yang membuat kangen saya. Suasana rimbun dan remang deretan pohon dan semak, daun-daun kering yang berserakan di sekitar pohonnya, bayang-bayang batang pohon yang menaungi tanah dari panasnya mentari, hamparan jernihnya air danau kecil, dan bahkan sunyi heningnya sepetak kuburan Belanda selalu membuat saya takjub. Dan hari-hari kunjungan kesana yang saya nantikan adalah saat ada kesempatan di hari sepi, artinya bukan hari Sabtu dan Minggu, untuk menghindari suasana ramai dari riuhnya pengunjung. Semakin sepi pengunjungnya, bagi saya semakin cocok bagi saya. Bisa-bisa pagi hingga petang saya habiskan di sana.
Seperti hari ini..... Saya tidak ingin menyia-nyiakan anugerah ini. Saya pun segera berjalan menuju pojok favorit saya, yakni yang bernuansa rindang dan penuh pohon, tetapi bisa juga melihat indahnya danau beserta penghuninya (ada beberapa burung yang ada di danau itu). Tetapi rupanya sudah ada orang yang lebih dulu menduduki tempat favorit saya tersebut. Awalnya berniat pindah lokasi, tetapi karena saya pikir dia ga akan betah lama-lama di situ, akhirnya saya tetap ke situ.
“Punten ya Pak.... Mengganggu ga ya Pak jika saya numpang duduk di sini? ” Terpaksa saya ucapkan itu karena melihat kerut dahinya yang seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Oh silahkan Mas...”. Saya pun tersenyum dan segera mencari posisi duduk yang nyaman, yang kebetulan berada di sisi bapak tersebut. Yang awalnya hanya ingin sekedar basa-basi, akhirnya kami pun mengobrol. Biar pun niat awal saya ke KRB bukan untuk mengobrol, tetapi ya sudahlah, saya pun mendengarkan segala cerita bapak itu. Ternyata benar, dia sedang dilanda kesedihan, dan itu cukup membuatnya tidak tenang selama berhari-hari, sehingga memutuskan untuk ke KRB, berharap suasana sepi, hening, dan segarnya pemandangan bisa membantunya.
Saya terus mendengarkannya, biar pun dalam hati agak heran juga. Jika ke KRB tujuannya ingin menikmati suasana yang ada di situ, ya seharusnya nikmati saja. Cara menikmatinya ya terserah dia, bisa dengan melihat-lihat pemandangan di situ, atau sekedar jalan sambil menghirup udara segar yang dihembus oleh hijaunya dedaunan, atau apa sajalah sesuai caranya. Bukan malah terpekur dengan dahii berkerut terus memikirkan kesedihan itu, sampai lupa sedang ada dimana dan apa sebenarnya tujuannya ke situ. Tapi ya sudahlah, saya hanya diam dan terus mendengarkan, berharap minimal ada kelegaan setelah dia bercerita. Setelah agak reda ceritanya, saya pun segera mengalihkan pembicaraan ke suasana yang ada di situ. Minimal nyambung dengan segala yang dihadapi saat itu, yakni suasana nyaman, segar, sunyi hening KRB yang seharusnya dinikmati saat itu. Akhirnya bahan obrolan beralih ke suasana pedesaan semasa kecil (kebetulan sama-sama berasal dari pedesaan).....
Beberapa saat kemudian saya baru bisa menikmati suasana kesendirian saya. Menjelang sholat Jumat bapak itu pamit.... Dan saya pun segera membuang jauh pikiran mau pun perasaan yang berkaitan dengan cerita bapak tadi. Sekarang bukan saatnya memikirkan sesuatu yang hanya membuat beban hati dan kerut pikiran. Sekarang saatnya tersenyum menikmati indahnya KRB....
Sebenarnya banyak dari kita yang kadang seperti bapak tadi. Tidak tahu apa yang seharusnya dan sebenarnya dilakukan. Kita bilang kita akan menikmati pemandangan, tetapi pikiran dan hati sedang sibuk dengan urusan yang lain. Kita bilang kita akan istirahat tidur malam, tetapi pikiran dan hati terus berkecamuk dengan ini dan itu, biar pun badan sudah terbaring di ranjang. Kita bilang akan menikmati makanan paling enak di sebuah restoran bersama teman-teman kita, tetapi sesampai disana, kita malah sibuk ngobrol, bahkan makanan yang ada di mulut pun sampai melompat keluar saking berbusa-busanya mulut mengobrol, dan begitu selesai makan, tidak mengerti apa enaknya makanan tadi. Kita bilang kita sedang berada di rumah bersama istri dan anak-anak kita, tetapi raut wajah berkerut muram karena urusan pekerjaan di kantor yang belum kelar-kelar, dan lain sebagainya....
Mungkin itu yang dinamakan tidak sadar. Kita melakukan ini, tetapi fokusnya sedang ke sana. Harusnya gembira berlibur bersama keluarga, yang terjadi kita membawa kesedihan akibat hal yang lain, sehingga membuat keluarga ikut bersedih, dan justru tidak bisa menikmati liburannya. Itu bisa juga dikatakan tidak profesional. Urusan kantor harusnya diselesaikan di kantor, sampai di rumah curahkan waktu dan perhatian kita untuk istri dan anak-anak. Itu seharusnya. Silang pendapat dengan istri di rumah tinggalkan di dalam rumah, dan saat keluar pintu gerbang rumah, fokuskan perhatian ke perjalanan, dan sampai kantor, fokuskan segala potensi di kantor. Boleh saja hari ini sedih, tetapi cukup hari ini kesedihan itu, besok sudah lain lagi. Masalahnya, kita senang berlarut-larut membawa sesuatu di pikiran dan hati kita, dan mencampuradukkannya untuk segala hal dan waktu. Jika seperti itu, kita seakan hidup, tetapi sebenarnya tidak memilikinya secara utuh, karena tidak menyadari segala hal dan hanya terseret arus waktu..... Kita tidak tahu apa yang kita lakukan. Sia-sial dan percumalah semuanya...(Set, 2010)
