Syarat Gembira

“Ahhh, rasanya saya ingin kembali ke masa kecil saja.”

“Mengapa Pak?”

“Soalnya seingat saya, saat kecil saya bisa melalui setiap harinya dengan canda tawa. Setiap hari selalu ada yang membuat saya gembira...”

Saya pun hanya terdiam karena mengamininya. Ya, seingat saya, biar pun terkadang ada tangis yang menghiasi hari, tetapi selebihnya adalah rasa riang dan gembira. Jika tidak didapat saat di rumah, maka akan selalu ada kesempatan untuk tertawa dan gembira bersama teman-teman di sawah atau di sungai. Selalu seperti itu. Bahkan jika ingin membeli es krim dan tidak mampu mendapatkannya karena tidak ada uang, maka kesedihannya pun segera lenyap saat bisa menggantikan es krim yang diinginkan dengan hal sepele lainnya. Misalnya mancing di sawah, kemudian membakarnya dan dibumbui garam dan kecap yang dibawa dari rumah, dan kemudian mandi di sungai. Rasanya tidak ada sesuatu hal yang bisa menghambat rasa gembira untuk muncul.

Perasaan gembira seperti itu rupanya mulai rentan menghilang saat orang mulai beranjak dewasa. Di saat sekarang sudah punya penghasilan dan bisa membeli es krim berapa pun perut muat, tetapi hal itu tidak cukup untuk membuat gembira. Sekarang es krim tidak terasa nikmat lagi sehingga tidak menimbulkan kegembiraan. Sekarang inginnya bisa membeli sesuatu yang lain, yang lebih, yang mewah, yang bisa dikagumi banyak orang. Nah, mungkin jika sudah mampu membeli dan memilikinya, bisa akan merasa gembira. Rasanya di jaman sekarang ini, banyak yang berpikir seperti itu. Banyak orang yang akan merasa gembira jika mampu membeli HP baru, motor baru, mobil baru, rumah baru, atau bisa juga jabatan baru, kekasih baru yang telah lama diidamkan, dan lain sebagainya. Ini sama saja orang tidak akan gembira jika belum bisa mendapat HP baru, motor baru, mobl baru, rumah baru, jabatan baru, dan lain sebagainya. Bukankah begitu?

Maka hari-hari pun disibukkan dan dipenuhi dengan berbagai olah pikiran, hati, dan upaya untuk mendapatkan apa yang dirasa akan membuat gembira tersebut. Setiap hari bekerja keras dari pagi hingga petang, terkadang sampai malam. Itu bahkan kadang belum cukup. Saat mata seharusnya mulai terpejam, ternyata susah untuk istirahat karena pikiran masih sibuk memikirkan berbagai cara dan hati belum lega dan tenang karena yang diinginkan memang belum tercapai. Celakanya, tidak semua orang mampu mendapatkan apa yang diinginkan bukan? Jika seperti itu, berarti selama hidup tidak akan gembira bukan? Bahkan, seandainya suatu saat tercapai apa yang diidamkan, maka besar kemungkinan benda-benda / hal-hal tersebut hanya akan mampu memberi rasa gembira dalam waktu yang sesaat. Ini seperti saat kita sudah bisa membeli HP baru misalnya. Rasa gairah dan gembira yang dirasakan paling hanya bertahan beberapa minggu atau bulan, setelah itu HP baru tadi sudah menjadi sebuah benda biasa, benda yang berfungsi sebagai alat komunikasi dan hiburan, hanya itu. Tidak ada lagi gairah dan gembira karena memilikinya, hingga suatu saat akan mulai bosan dan mempunyai keinginan yang lain lagi. Saat itu rasa gembira tadi sudah menghilang....

“Mengapa seperti itu ya?”

Tidak ada yang tahu secara pasti. Dan memang tergantung pada pemahaman seseorang tentang rasa gembira tadi. Mungkin banyak dari kita yang berpikir bahwa kita akan gembira jika sudah mendapatkan sesuatu dan menikmatinya. Saya akan gembira jika sudah memiliki ini dan itu. Berarti kita menggantungkan kegembiraan hidup pada sebuah benda, keadaan, atau bisa juga orang lain (misalnya orang terdekat kita). Atau secara gampangnya kita menggantungkan kegembiraan kita pada materi. Jika mendapat materi ini dan itu, barulah saya akan gembira. Jika tidak, maka saya tidak akan gembira dan bermuram durja terus. Nah, ga enak banget ya hidup jika sudah seperti itu.

Jika sudah  mendapatkan pun, ternyata rasa gembira yang didapat tidak akan berlangsung langgeng, karena rasa gembira sekarang berhubungan dengan rasa nikmat memilikinya. Yang namanya rasa nikmat, sudah pasti tidak akan berlangsung lama. Belum lama ini saya menikmati masakan dambaan saya semasa masih di Jogja dulu, yakni sengsu atau tongseng asu (masakan dari B2). Karena dulu hobinya makan sengsu, maka saat mendapatkannya disini, saya begitu sangat bergairah dan gembira mendapatkannya. Setelah saya dapatkan, saya pun menikmatinya. Sungguh, di suapan pertama kedua rasanya sangat nikmat sekali. Saya bahkan sempat nambah satu porsi lagi. Dan saat memakan porsi kedua tadi, rasa nikmatnya sudah berkurang. Dan akhirnya saya malah harus bersusah payah untuk menghabiskan porsi kedua. Jadi jelaslah bahwa rasa nikmat yang tadi memberi rasa gembira di awalnya tidak berlangsung lama.

Mungkin seperti itu. Jika menggantungkan kegembiraan kita pada materi dan rasa nikmat, maka hidup akan berlangsung dengan muram. Jadilah hidup kita diisi dengan perburuan materi, dan tahu-tahu sudah berumur dan dihinggapi penyakit, dan suatu saat meninggal. Hidup terasa hampa dan sia-sia bukan? Maka kita tinggal merenungkan diri kita masing-masing, gembirakah kita hari ini? Jika belum, jangan-jangan kita menggantungkan kegembiraan hidup kita pada sesuatu yang kurang tepat, sesuatu yang tidak kekal, yakni materi dan kenikmatan sesaat. (Set, 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *